Para pengikut agama Hindu tidak meragukan konsep adanya seorang juru penyelamat di akhir zaman dan mereka selalu mengingatnya di kitab-kitab suci mereka. Mereka meyakini bahwa pada periode besi, periode “Kali” sebagai periode keempat dan terakhir dunia ini, Kalki akan muncul. Kalki adalah jelmaan kesepuluh tuhan Wishnu (tuhan penjaga) yang akan datang pada masa dimana hanya seperempat dari ajaran agama diamalkan dan kelaliman mendominasi seluruh dunia.[1] Ia akan muncul dengan menunggangi kuda putih dengan menggenggam pedang berkilat bak batu meteor untuk membasmi kelaliman dan kejahatan. Ia akan membasmi segala bentuk kematian, Yama (baca: kebejatan) dan akan menang atas segala kekuatan yang menentangnya.
Kalki di dalam kerangka pemikiran para pengikut agama Hindu adalah seorang figur Ilahi dan menyatu dengan kedudukan tuhan yang tak terbatas. [2]
Dalam sebuah kitab suci para pengikut agama Hindu berkenaan dengan karakteristik juru penyelamat umat manusia ini disebutkan, “Akibat dunia ini akan kembali ke tangan seseorang yang mencintai tuhan, salah seorang hamba-Nya yang istimewa dan namanya adalah sebuah nama yang sangat mulia.” [3]
Kalki memiliki kedudukan istimewa di dalam keyakinan para pengikut agama Hindu dan gambarnya yang berbentuk seorang penunggang kuda putih yang berwibawa dengan pedang terhunus di tangan dapat ditemukan di setiap pojok ruangan pameran seni mereka. [4]
Berdasarkan keyakinan agama Hindu, Kallki akan membumihanguskan pemerintahan orang-orang tak layak dan membentuk sebuah pemerintahan yang mendunia, penyebar keadilan dan berporos kepada agama murni. Atas dasar ini, dalam sebuah kitab suci mereka ditegaskan, “Tangan kebenaran akan datang dan pengganti terakhir akan muncul. Ia akan mendominasi seluruh arah Timur dan Barat dan memberikan petunjuk kepada seluruh makhluk di seluruh penjuru dunia.” [5]
[1] Movahhediyan, Ali, Gooneh-shenasi-ye Andishe-ye Mau’ood dar Adyan-ne Mokhtalef, majalah Haft Aseman, nomor 12 dan 13.
[2] Ibid.
[3] Arman-shahr dar Adyan, majalah Pegah-e Hauzeh, nomor 24, hal. 2.
[4] Movahhediyan, Ali, Gooneh-shenasi-ye Andishe-ye Mau’ood dar Adyan-ne Mokhtalef, majalah Haft Aseman, nomor 12 dan 13, hal. 117.
[5] Kharou-shahi, Hadi, Mosleh-e Jahani, hal. 60.