Sebelum kita memasuki pembahasan, kita berhak untuk bertanya, mengapa Imam Mahdi as harus gaib sehingga kita tidak dapat menemui beliau dengan leluasa? Mengapa kita harus terhalangi dari perantara faidh Ilahi yang agung ini sehingga kita harus menjalani kehidupan terkatung-katung tak mengetahui tujuan dengan pasti? Tidakkah lebih baik beliau muncul di tengah-tengah kita sehingga kita dapat mengadukan seluruh problema kita dengan leluasa? Paling tidak, itulah yang terbaik menurut pendapat kita!
Jika kita meruntut sejarah masa lalu, sebenarnya kita adalah korban sejarah. Menurut sebuah pepatah, orang lain yang makan nangka kita yang terkena getahnya.
Jika kita ingin menemukan jawaban atas pertanyaan di atas, sebenarnya kita harus merujuk kepada masa lalu; apa yang telah terjadi pada masa lalu sehingga Allah harus menggaibkan hujah-Nya?
Situasi sosial-politik pada masa Imam Ali al-Hadi as hingga masa Imam Hasan al-‘Askari as sangatlah tidak menguntungkan Ahlulbait as dan para pengikut mereka. Mereka selalu hidup dalam kelaliman dan pengawasan ketat sehingga mereka pun tidak dapat berjumpa dengan imam mereka dengan leluasa. Sikap ini daiambil oleh pihak penguasa karena mereka pernah mendengar banyak hadis yang memberitahukan akan kemunculan seorang imam dari keturunan Imam Hasan al-‘Askari as yang akan menumbangkan segala jenis kelaliman yang bercokol di muka bumi ini. Sebagai gantinya, ia akan mendirikan sebuah pemerintahan adil yang dapat menebarkan bau semerbak cawan keadilan ke seluruh lapisan masyarakat sehingga setiap individu masyarakat dapat meneguknya. Melihat hadis-hadis semacam itu, para penguasa itu harus mengambil sikap dan strategi tersebut supaya dapat membunuhnya begitu ia lahir.
Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, keberadaan seorang imam ma’shum adalah sebuah perantara faidh Ilahi untuk seluruh makhluk sehingga alam semesta ini tidak hancur berantakan. Dengan demikian, jika ia lenyap dari muka bumi ini, niscaya alam ini akan hancur berantakan, karena perantara faidh-Nya telah terputus. Melihat kedua realita tersebut, Allah SWT “terpaksa” menggaibkan hujah-Nya demi menyelamatkannya dari tangan-tangan jahil penguasa dan menyimpannya di alam ghaibah hingga waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.
Ghaibah shughra adalah sebuah ghaibah yang bersifat temporal dan tidak berlangsung lama. Masa ghaibah ini berlangsung sekitar 70-75 tahun. Sebenarnya, masa ghaibah ini adalah sebagai prolog untuk memasuki masa ghaibah yang lebih panjang, yaitu ghaibah kubra. Pada masa ini, hubungan Imam Mahdi as dengan masyarakat tidak terputus secara total. Beliau masih mengadakan hubungan dengan masyarakat secara langsung dan tatap muka meskipun melalui perantara para wakil khusus beliau. Dengan perantara mereka, beliau menyelesaikan segala problema yang sedang menimpa masyarakat luas. (Pembahasan tentang para wakil khusus beliau ini akan kami haturkan pada kesempatan yang akan datang).
Berkenaan dengan permulaan ghaibah shughra ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama; sebagian berpendapat bahwa hal itu dimulai sejak beliau lahir pada tahun 255 Hijriah, dan menurut sebagian pendapat yang lain, ghaibah ini dimulai sejak Imam Hasan al-‘Askari as syahid. Dengan demikian, berdasarkan pendapat pertama, masa ghaibah shughra ini berlangsung selama 75 tahun. Sementara menurut pendapat kedua, masanya berlangsung selama 70 tahun. Dan kita dapat memilih pendapat pertama mengingat semenjak kelahirannya, beliau pun tidak pernah menampakkan diri di hadapan khalayak kecuali dalam kondisi tertentu dan kepada orang-orang tertentu. [1]
[1] Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhűr, hal. 140-145; Khorshid-e Maghrib, hal. 42-43.