Sebelum kita memasuki inti pembahasan alangkah baiknya jika kita utarakan mukadimah berikut ini. Salah satu yang patut disayangkan adalah sebagian dari generasi muda pelanjut Islam, merasa puas dan menikmati apa yang didoktrinkan oleh barat dan musuh Islam, mereka menerima semuanya dengan penuh percaya diri dan rasa bangga, walau hal tersebut keluar dari jangkauan akal sehat sekalipun dan anehnya lagi mereka ikut-ikutan meragukan hal-hal non-materi.
Hal ini jelas menunjukan impreliasasi baru yang diterima oleh dunia Islam berupa penjajahan pemikiran dan budaya. Dan akan melenyapkan keyakinan dan iman dari hati para generasi muda.
Imprealisasi baru telah menghantam para gemerasi muda Islam dan mendorong mereka kepada pemikiran materailistik dan penolakan terhadap non-materi.
Jika seorang Mr atau seorang professor menulis sebuah buku, jika seorang filsuf berargumentasi, jika seorang ahli Jerman, peniliti Prancis, ilmuwan Amerika menganalisa, atau dosen di universitas ini dan itu berkomentar, jika penulis yahudi atau kristiani dan lain-lain berpendapat, mereka dengan penuh decak kagum dan tanpa pikir panjang menerimanya dengan lapang dada, layaknya sebuah wahyu yang turun yang tak dapat salah sedikitpun.
Namun jika mereka mendengar bahwa Allah SWT berfirman, Rasul saw bersabda, Ali as berkata, atau kita menyebut sebuah mukjizat atau keutamaan salah satu imam, dengan berat hati mereka terima atau bahkan tak jarang mereka yang mencari-cari alasan yang ujung-ujungnya adalah menolak dan mengingkari kebenaran ucapan dan perkataan tersebut.
Bukankah Rasul saw adalah seorang yang pintar, bijak, filsuf, penuh eksperimen dan selalu berhubungan dengan wahyu dan berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta Yang Maha Tahu.?
Jika kita katakan usia Imam Mahdi as melebihi 1200 tahun, mereka sepontan bertanya; bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Namun, jika pendapat tersebut dilontarkan oleh seseorang yang memiliki embel-embel barat, profesor, dosen atau yang lainnya, dan mengatakan bahwa seorang manusia dengan menjaga makanan dan kesehatan mampu hidup beribu-ribu tahun lamanya, maka mereka akan langsung menganggukkan kepala sebagai tanda percaya dan takjub akan eksperimernnya.
Jika kita menyebut ucapan atau pendapat Darwin, Freud dan Einstin yang semuanya berdarah yahudi dan ilmuwan-ilmuwan lain yang mengingkari Sang Pencipta dan menolak segala macam bentuk agama, kita melihat para generasi muda kita menerima dan menganggapnya sebagai semuah fakta yang tak terbantahkan lagi.
Oleh karena itu, kerap kali kita lihat para penulis kita terpaksa berargumentasikan pendapat para ilmuwan di atas demi untuk memuaskan pemuda dan generasi semacam ini, yang disayangkan jumlah mereka tidak sedikit.
Kita kembali kepada inti pembahasa kita, mengenai umur panjang Imam Mahdi as: sesungguhnya umur panjang termasuk permasalahan yang belum dan tidak memiliki batasan yang jelas. Jika ada seseorang yang hidup beratus-ratus tahun atau beribu-ribu tahun, maka itu bukan berarti batas maksimal umur manusia adalah sampai di situ. Karena menurut inovasi dan riset terakhir umur manusia tidak dapat ditentukan.
Di dalam majalah Al-muqtathaf yang terbit di Mesir, di halaman 239 disebutkan: ...akan tetapi para ilmuwan yang dapat dipercaya berkata : sesungguhnya sistem organ tubuh seekor hewan bisa bertahan dan kekal, dan bisa jadi manusia bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya, andai tidak ada peristiwa-peristiwa dan insiden yang memutus kehidupannya.
Di halaman 240 pada majalah dan edisi tersebut juga dikatakan : apa yang disepakati dari berbagai eksperimen yang ada adalah manusia tidak akan mati karena telah menginjak usia 80 tahun atau 100 tahun, akan tetapi kematian manusia itu disebabkan oleh seseuatu yang mencegah fungsi dan peran masing-masing organ tubuh, dan interaksi antara organ satu dengan yang lain, jika sain dan ilmu pengetahuan mampu menghilangkan gangguan tersebut maka kita akan menyaksikan manusia akan mampu hidup beratus-ratus tahun lamanya.
Kita juga belum mendengar ada sebuah buku, sebuah pernyataan dari seorang dokter atau filsuf yang menentukan batas akhir usia manusia serta mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak akan melebihi usia tertentu atau mustahil manusia mampu hidup seribu tahun.
Akan tetapi yang kita dapati akhir-akhir ini adalah medis moderen berupaya mendapatkan obat dan trapi untuk hidup abadi, awet muda, dan menjaga kebugaran sel-sel tubuh.
Memang, umur panjang di zaman kita sekarang sangat jarang terjadi, mengingat usia pendek yang dialami oleh orang pada zaman ini, akan tetapi perlu dicamkan bahwa jika ada sesuatu yang jarang terjadi, bukan berarti hal itu mustahil untuk terjadi. Sebagaimana, di masa-masa yang lalu kita melihat manusia membutuhkan waktu sebulan untuk menempuh rute 1000 kilo meter namun sekarang dengan adanya pesawat terbang manusia memerlukan waktu tak kurang dari 1 jam untuk menempuhnya. Jika seseorang dari masa ini mengabarkan orang pra sejarah misalnya dan mengatakan bahwa jarak sejauh itu dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, niscaya mereka tidak akan membenarkan ucapan orang tersebut karena jarang dan tidak biasa.
Sesungguhnya manusia –di era ini- mengenal sesuatu melalui kebiasaan yang telah dan sedang berlangsung, bukan berdasarkan ushul ilmiyah, bahkan mereka-mereka yang mengenal ushul ilmiyah sekalipun tidak mengklaim diri telah mengetahui segala sebab dan cikal bakal segala sesuatu, bahkan mereka mengatakan kalau dirinya masih di awal perjalanan dan mengakui kalau ushul ilmiyah itu lebih banyak yang masih terselubung ketimbang yang telah disingkap oleh para ilmuwan.
Dengan demikian banyak rumus-rumus ilmiyah yang masih terselubung dan belum disingkap oleh manusia, manusia hanya mampu memahami hal-hal yang dhahir tanpa mengetahui sebab musababnya, segala sesuatu memiliki sebab dan ilalat, dan sebab tersebut memiliki sebab lain dan begitu seterusnya, mereka tidak akan mampu mengatahui sebab utama; kecuali manusia hanya dapat berkata; itu adalah kuasa tuhan Yang Maha Kuasa.