Umur Panjang dari Sisi Teologis

Jika kita melihat topik umur panjang ini melalui kaca mata teologi, maka kita akan mendapati bahwa hal ini adalah hal yang biasa sekali, karena setiap orang mukmin akan menyakini kalau ajal manusia di tangan Allah SWT, artinya Dialah yang menentukan ajal dari setiap sesuatu yang bernafas dan yang memiliki kehidupan, Dia mampu memanjangkan umur seseorang, sebagimana Ia juga Kuasa untuk memendekkannya. Jika Allah SWT telah berkehendak untuk memanjangkan umur seseorang, maka secara pasti Dia akan menyiapkan segala persyaratan- persyaratan dan hal-hal yang membuatnya panjang umur, baik dari sisi alamiyah maupun non alamiyah secara bersamaan, sebagaimana terdapat beberapa sarana dan faktor untuk memeprcepat umur, di sana juga terdapat sarana untuk memanjangkan umur, dan kedua sarana tersebut bagi Allah SWT sama saja tidak ada yang sulit atau tidak ada yang lebih mudah.

Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat dikatakan: dari sisi alamiyah (natural) setelah kematian, jasad dan tubuh manusia pada akhirnya akan hancur dan musnah, akan tercerai berai,  akan tetapi di negeri Mesir, kita melihat berpuluh-puluh jasad manusia yang dimumikan dari zaman Fir’aun sampai sekarang, beribu-ribu tahun jasad itu tetap menyatu tidak hancur dan tidak terpisah dari satu dengan yang lain, hal ini tidak dibilang hal yang luar biasa, namun hal ini adalah peristiwa dan proses alamiyah yang menentang proses alamiyah lainnya, dengan kata lain pemumian mencegah kehancuran organ tubuh.

Lebih dari mumi tadi, kita lebih diherankan oleh jasad-jasad para hamba-hamba Allah SWT yang selama bertahun-tahun dikuburkan, tapi ternyata jasad-jasad tersebut masih segar dan tanpa perubahan sama sekali. Sebagaimana kita mendengar bahwa jasad Syekh Shaduq saat perenovasian makamnya, tubuh beliau terbongkar, namun tubuh yang sudah terpendam selama kurang lebih 900 tahun itu tetap segar layaknya seorang mayit yang masih belum dingin. [1]   Baru-baru ini, di Bagdad, saat orang-orang ingin memindahkan makam seorang sahabat nabi Khudaifah Yamani dari tepi sungai Dajlah ke samping makam sahabat setia rasul yang lain Salman Al-Farisi di kota Madain, kuburan itu terbongkar dan tampaklah jasad beliau, saat itu jasad beliau layaknya seseorang yang baru meninggal hari itu, tanpa perubahan sedikitpun, padahal beliau wafat pada tahun 36 hijriyah, dan kita yakin beliau tidak dimumikan. Namun satu hal yang pasti, jasad beliau terlihat segar bugar sampai sekarang berkat izin dan restu dari Allah SWT.

Dan yang masyhur diantara orang-orang mukmin adalah barangsiapa rajin mandi di hari jumat, maka jasadnya tidak akan hancur dan tercerai berai.

Dengan demikian, bisa jadi Imam Mahdi as, dalam kehidupannya, sangat memperhatikan kesehatan, beliau menggunakan hal yang sarat guna dan manfaat dan menjauhi hal-hal yang berbahaya, sehingga beliau hidup sehat dan terbebas dari segala penyakit dan virus, organ tunbuh beliau bekerja dengan semestinya tanpa gangguan, yang dengan demikian masa tua, lemas, lesu, dan… tidak pernah berkunjung, selalu segar, bugar dan penuh energik, semua itu berkat potensi dan kekuatan jasmani yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada beliau as.

Kongklusi dari apa yang kita jelaskan tadi adalah Allah SWT adalah penjaga Imam mahdi as, Dialah yang menjaga beliau dari gilingan roda zaman dan waktu, Dia pula yang memanjangkan umur beliau dan yang menjaga jasmani beliau dari berbagai penyakit.


[1] Cerita ini dapat dilihat di: Tanqihul Maqal, karya Mamqani, Qishashul Ulama, karya Tankabini dan Khunsari dalam bukunya Raudhatul Jannat.